Home > Out Of Topics > OpenSource, OpenCommunity, OpenResource & OpenMind (1)

OpenSource, OpenCommunity, OpenResource & OpenMind (1)


Satu dekade belakangan ini, perangkat lunak berbasis OpenSource sangat marak dan bahkan berkembang pesat. Salah satu icon-nya adalah sistem operasi GNU/Linux. Terminologi OpenSource sendiri dapat diartikan pembukaan kode sumber perangkat lunak ke publik. Gerakan OpenSource ini timbul akibat kekurangpuasan terhadap perangkat ClosedSource atau propietary. Pada perangkat propietary, pengguna tidak dapat melakukan pengembangan dan atau perbaikan terhadap malfunction pada aplikasi karena tidak mempunyai akses ke kode sumber, sehingga ketergantungan terhadap pembuat perangkat sangatlah tinggi. Akhirnya timbul inisiatif dari beberapa pengguna yang juga pengembang perangkat lunak untuk membuat perangkat yang kode sumber nya dipublikasikan secara luas agar apabila ada pihak yang ingin mengembangkan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhannya tidak memiliki ketergantungan terhadap pembuat perangkat yang asli.

Tentunya publikasi ini disertai dengan lisensi yang mengatur bagaimana penggunaan, modifikasi dan distribusi kode sumber maupun perangkat lunak yang berbasis atau menggunakan seluruh atau sebagian kode sumber tersebut. Saat ini banyak bermunculan model lisensi terkait OpenSource antara lain GPL, MPL, BSD, LGPL, Apache Software, MIT dan sebagainya. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan yang telah diatur pada situasi dan kondisi tertentu.

Bicara soal kualitas, perangkat OpenSource semakin hari semakin baik dan mampu bersaing dengan perangkat propietary yang telah lebih dahulu matang. Bahkan banyak pula yang lebih unggul. Hal ini menjadi salah satu daya tarik yang kuat.

Disamping keterbukaan kode sumber, daya tarik perangkat OpenSource adalah biaya yang rendah apabila dikaitkan dengan harga sebuah perangkat lunak. Umumnya biaya yang dikeluarkan adalah untuk pengganti ‘ongkos’ duplikasi CD, pengepakan dan pengiriman.

Namun, tentunya penggunaan perangkat OpenSource tidak berhenti pada instalasi saja. Masih ada tahapan implementasi dan pemeliharaan. Nah di sini lah kelemahan perangkat OpenSource dibanding propietary. Pada aplikasi propietary, pihak pembuat bertanggung jawab dalam bantuan dan dukungan terhadap client-nya, terutama saat muncul kesalahan atau kesulitan. Hal ini sangat berbeda pada openSource. Dukungan yang diberikan sangat minim, manajemen dan administrasi perbaikan yang membingungkan bagi pengguna awam karena tersebar di berbagai mailing list dan forum, bahkan kalaupun dukungan tersebut diberikan oleh pembuat, umumnya mereka menarik biaya tambahan.

Nah apabila biaya – biaya yang muncul dikalkulasikan, maka akan terdapat berbagai versi jumlah biaya yang harus dikeluarkan. Mana yang lebih murah..?? Hal ini masih menjadi perdebatan sengit. Sudah banyak penelitian dilakukan dan dipublikasikan, namun umumnya perangkat OpenSource relatif lebih murah.

Categories: Out Of Topics
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: